Belajar menanam

 

Dokumen pribadi
Alloohumma Baarik

عن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «ما من مسلم يَغرس غَرسا إلا كان ما أُكل منه له صدقة، وما سُرق منه له صدقة، ولا يَرْزَؤُهُ أحد إلا كان له صدقة». وفي رواية: «فلا يَغرس المسلم غَرسا فيأكلَ منه إنسان ولا دَابَة ولا طير إلا كان له صدقة إلى يوم القيامة»، وفي رواية: «لا يَغرس مسلم غرسا، ولا يزرع زرعًا، فيأكل منه إنسان ولا دَابَة ولا شيء، إلا كانت له صدقة».  

[صحيح] - [متفق عليه من حديث أنس، ورواه مسلم من حديث جابر]


Dari Jabir -rodhiyalloohu 'anhu- ia berkata, Rosulullooh -shollalloohu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidaklah seorang muslim menanam pohon, melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu menjadi sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut menjadi sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seseorang dikurangi (diambil) orang lain melainkan menjadi sedekah baginya." Dalam riwayat lain disebutkan, "Tidaklah seorang muslim menanam pohon lalu manusia memakannya, atau binatang, atau burung, maka hal itu menjadi sedekah baginya pada hari kiamat." Dalam riwayat lain disebutkan, "Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman lalu manusia memakannya, atau binatang, atau sesuatu, maka hal itu menjadi sedekah baginya."  

Hadis shohih - Diriwayatkan oleh Muslim


***

Bismillaah, 


Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu hal yang baik. Contohnya untuk menyukai hobby bercocok tanam. Walaupun pandemi sudah lewat maka tak mengapa baru memulai nya. Mengapa hal ini di hubungkan dengan pandemi? Karena pada saat dimana manusia harus stay di rumah, banyak yang memilih bercocok tanam sebagai hobby baru yang menyenangkan sekaligus untuk healing. Sedangkan saya, tidak pandemi pun memang selalu stay di rumah. Dan qoddarullooh baru melakoninya sekarang. Walaupun sebenarnya bercocok tanam ini adalah hal yang sangat saya sukai dari dulu. Bahkan berangan-angan jika memiliki lahan luas pastilah ingin menanam-nanam apa saja yang bermanfaat apalagi jika bisa di olah menjadi sesuatu yang bisa di santap. Nah kan, jatuhnya jadi masak memasak juga ini. Akhirnya sambil nyelam minum air banyak-banyak. Hehhe. #awas tenggelam 


Dan ternyata hobby ini bisa saja di realisasikan walaupun dengan keterbatasan lahan. Menanam tidak mesti harus di lahan yang luas. Trend saat ini banyak yang menanam tanaman di pot-pot besar atau polibag sebagai wadah/tempat menanam tanaman. Jika media tanamnya bagus maka tanaman akan dapat tumbuh subur, in syaa Allooh. Di antara beberapa media tanam yang biasanya di perlukan adalah tanah, sekam bakar atau sekam mentah, kotoran hewan (kohe). Agar tumbuh subur maka tanaman butuh perawatan dan pupuk. Pemakaian pupuk boleh pupuk alami atau pupuk buatan. Untuk skala rumah yang sedang ingin saya lakukan ini cukup dengan pupuk alami saja. Pupuk alami bisa di beli di toko-toko pertanian atau jika ingin membuatnya sendiri maka hal ini pun sangat di bolehkan. Cara pembuatan pupuk alamipun dapat dengan mudah kita peroleh dari internet. Tinggal pilih mana yang cocok untuk tanaman kita. 


Awalnya saya mencoba menyemai benih dari bumbu dapur. Pas mau ngulek, koq ya pengen menyisihkan sebagian biji-biji tomat dan cabe yang sedang otw masuk ulekan. Akhirnya sebagian biji-bijian itu di sisihkan dan langsung bangkit membawa biji-bijian itu menuju polibag ala-ala alias polibag dari bekas minyak goreng. Segera setelah menyebarkannya melanjutkan ulekan tadi yang sempat tertunda. 


Setelah beberapa pekan baru sempat  memperhatikan bibit-bibit dapur itu kembali. Dan sayapun mulai memindahkan bibit-bibit itu ke masing-masing polibag agar pertumbuhannya lebih baik lagi (disini saya masih menggunakan wadah bekas minyak goreng). 


Dan saat ini usia cabe dan tomat saya mungkin sudah tiga bulan. Tapi sepertinya tanaman saya kurang subur. Karena media tanamnya hanya tanah saja. Heheh. Sekam bakar baru saja di beli dan tanah pun masih kurang. Jadi masih dalam tahap menyediakan media tanam untuk selanjutnya. Dan bagaimana kelanjutan tanaman yang sekarang yang sudah berusia lebih kurang tiga bulan ini? Semoga saja bisa tetap bertahan hidup dan bisa berbuah lebat. #berharap. 


Ketika media tanam belum sempurna, entah mengapa malah semangat membeli benih online dan polibag. Padahal yang sudah ada saja media tanamnya masih alakadarnya. Berbagai macam benih online akhirnya mendarat dengan selamat. Benih-benih murah meriah, euy. Seharga dua ribuan saja.  Ada benih sayuran pak coi, kangkung, bayam dan selada. Ada benih tomat chery, seledri, daun bawang, paprika dan daun mint. Harganya sama hanya jumlahnya yang bervariasi. Dari semua benih yang ada, benih yang terkecil dan sangat halus adalah benih daun mint. 


Tidak menunggu lama, penyemaian benih online pun di mulai. Ada yg di semai di tanah dan ada yang menggunakan media tanam rockwool. Media rockwool ini sisa dari tanaman hidrophonik milik abunya anak-anak yang juga gagal. Heheh. Setidaknya masih bisa di gunakan untuk media penyemaian. 


Tidak semua benih online langsung di semai, bertahap dulu. Benih yang pertama di semai adalah benih pak coi, selada, paprika, tomat ceri dan daun mint. Di tray (atau nampan) basahi rockwool dan buat lubang kecil yang tidak terlalu dalam dengan menggunakan sumpit lalu letakkan benih ke lubang tersebut. Sedangkan yang di tanah tinggal kerok tanahnya sedikit saja lalu tabur benih. Lalu tutup kedua media semai tersebut dengan plastik atau kain dan simpan di tempat teduh. Setelah dua hari benih pak coi dan selada sudah mengeluarkan kecambahnya. Di hari ketiga sudah mulai bertambah tinggi. Yang dengan metode rockwool, saya memindahkan ke nampan yang lain dan tidak memakai penutup plastik lagi. Sedangkan yg belum berkecambah masih tetap di tutupi. Setelah benih semai berkecambah, kenalkan bibit dengan sinar matahari. Agar tidak terjadi bibit kutilang (kurus tinggi langsing). Ketika bibit berusia sepekan, saya memindahkannya ke polibag. Harusnya tunggu berusia dua pekan atau lebih. Kelihatan ya saya kurang sabar. #jangan di contoh ya ...


Dan hasilnya? Dengan media tanam yang belum sempurna pak coi dan selada hanya tinggal angan-angan. Heheh. Semua pada mati. Sedangkan kabar benih yang di semai bersamanya tak menunjukkan tanda-tanda akan berkecambah walau sudah tiga pekan masa semai. Hanya ada satu kecambah daun mint yang mulai terlihat. Namun lama kelamaan diapun menyerah dan memilih jalan bersama teman-teman nya yang mati lebih dahulu. 


Sisa benih masih banyak. Pantang menyerah dan maju terus. Lanjut untuk penyemaian berikutnya. Do'akan ya teman-teman semoga berhasil. 


Alloohumma Baarik, 

Makassar, 20112022


Ummu Aasiyah 

Emak Lima orang anak 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu

Kegiatan sehari-hari