Pendatang baru di kebun kecil kami

 

Daun mint.
Alloohumma Baarik.

Bismillaah, 

Awalnya membeli benih mint online yang repack. Karena harganya murah jumlah benihnya pun cuma sedikit. Saya semai di media tanam rockwoll. Cukup lama menanti kehadiran kecambahnya. Itupun yang muncul hanya satu. Saya masih membiarkannya tetap di media semai nya sambil menunggu barangkali teman-temannya yang lain ikut unjuk kecambah juga. Selama kegiatan penyemaian ternyata sudah masuk musim hujan. Dapur belakang tempat penyemaian benih mint agak bocor sehingga benih mint yang telah unjuk kecambah itu pun merana tergenang air. Kabar teman-temannya pun tidak kunjung berkecambah hingga waktu yang cukup lama. 

Ada penyesalan di dalam hati, kenapa saya tidak segera memindahkan bibit mint yang berhasil berkecambah itu ke tanah. Dan memperlakukannya dengan baik. Qoddarullooh wamaa syaafa'al, mau bagaimana lagi. Semua sudah tertulis, mungkin belum saat nya saya memiliki tanaman herbal mint yang sudah lama saya idam-idamkan. Padahal saya sudah membayangkan untuk menggunakannya sebagai properti foto pada hasil baking ataupun cooking saya nanti agar terlihat keren, hehe. Atau mengolahnya menjadi minuman herbal dengan menambahkan bahan herbal yang lain. Dan ternyata belum kesampaian. 

Saya mikir, mungkin karena benih repack jadi kurang bagus. Setidaknya begitulah pendapat-pendapat yang pernah saya baca dari beberapa sumber. Saya pun membeli benih mint yang bagus, yang tidak repack lagi tapi harganya masih terjangkau. Saya sering melihat berbagai sumber kalau merk yang saya beli ini bagus. Ok lah, agar tidak penasaran mari kita coba dulu. 

Karena isinya lumayan banyak, maka saya menyemainya dengan berbagai macam metode. Dari metode media rockwoll, metode germinasi (dengan tisu, kapas atau kain lembap) dan yang langsung di tanam ke tanah. 

Hasilnya. Tak satupun unjuk kecambah. Saya bolak-balik itu pembungkus benih demi mencari tanggal expirednya. Karena saya khawatir apakah benih-benih ini sudah expired. Tapi tidak di dapati tanggal expired disana. Lah, koq bisa ya. 

Ya sudahlah. Saya pasrah. Tapi tak membuat saya patah semangat untuk tetap berusaha ingin memiliki tanaman herbal mint. Kemudian saya kembali mencari di market place. Kali ini saya berubah haluan. Saya pengennya beli bibit yang siap tanam saja. Biar langsung dapat di tanam dan di rawat. Kalau dari benih, saya sudah menyerah. Memang agak susah kata sebagian orang menurut sumber yang pernah saya baca. 

Mencari-cari bibitnya di market place bukan sesuatu yang sulit. Tapi perbedaan harga cukup mencolok sih. Di daerah jawa sana bibit mint lebih murah daripada di Makassar ini. Tapi bagaimanapun tentu saja saya harus memilih yang dekat. Kalau dari jawa maka di khawatirkan mati ketika sampai di tujuan atau malah sudah mati duluan dalam perjalanan. Sangat berisiko. 

Sebenarnya tanaman mint mudah cara pengembangbiakan nya. Bisa dengan stek batangnya. Caranya, batangnya yang masih segar di rendam dulu di air, setelah muncul akarnya bisa langsung di pindah ke tanah. 

Dari pencarian tanaman mint di marketplace, ada rekomendasi yang menjual daun mint segar yang langsung untuk di olah. Ketika saya lihat gambar daun mint segarnya ada yang masih dengan batangnya. Saya jadi mikir. Apakah sebaiknya saya beli daun mint segar saja karena yang ada batangnya nanti bisa saya stek. Atau yang langsung siap tanam saja. Terus saya mikir lagi. Iya kalau batangnya masih segar, kalau layu maka saya tidak bisa mengambil batangnya untuk di stek. 

Dengan pertimbangan yang cukup cermat, saya lebih memilih yang siap tanam saja. Karena saya tidak mau ambil resiko. Ya walaupun dengan membeli bibit langsung tanam ini tentu tetap ada resikonya kecil atau besar. Karena yang namanya tanaman yang berpindah dari satu tempat menuju tempat lain pasti mengalami stress tanaman juga di perjalanan. Apalagi kalau tanamannya berpindah dari dataran tinggi ke dataran rendah atau sebaliknya. Dan alhamdulillaah karena tanaman yang akan saya pesan ini tempatnya dekat jadi masih berada dalam satu dataran, yaitu dataraan rendah. 

Alhamdulillaah bibit mintnya pun mendarat dengan mulus di rumah satu hari setelah hari pemesanannya. Keadannya masih segar. Segera saya spryer dengan air. Karena cuaca pada saat itu tidak terik maka saya berencana langsung menanamnya dan meletakkannya di tempat teduh sampai tanamannya kuat baru boleh terkena sinar matahari. Tapi, jika matahari terik maka setelah di spryer letakkan dulu di tempat teduh lalu tanam di sore hari. Tips lain memperlakukan bibit tanaman yang baru sampai adalah kurangi sebagian daunnya agar tanaman bisa berkonsentrasi untuk tetap kuat. Dan agar nutrisi yang di beri mencukupi. 

Bibit mint yang sampai itu ternyata sudah mempunyai sulur-sulur. Yaitu, akar yang tumbuh dari cabang-cabangnya. Sehingga saya menggunting menjadi beberapa bagian dari cabang-cabang itu. Saya gunting hati-hati dan membaginya menjadi tiga bagian kemudian saya tanam di media tanam yang sudah saya siapkan. Dan tak lupa beberapa daunnya saya kurangi. Ketika saya meremas sedikit daunnya maka keluar lah aroma mint. Hmm...segar. Beginilah ternyata aroma daun mint. "Mirip seperti odol". Kata saya. Sehingga anak-anak yang sedari tadi mengawasi kegiatan saya menjadi penasaran. Ya, mereka adalah pengawas saya. Karena semua kegiatan saya mereka awasi. Heheh. 

Lalu saya menyodorkan tangan saya yang sedang memegang daun mint dan mendekatkan ke indra penciuman mereka. "Iya, bau odol". Kata mereka kakak-kakaknya. 

Tidak mau kalah, dua balita yang memperhatikan kakak-kakanya itupun juga ingin mencium aroma daun mint yang sedang saya pegang. Ma ..ma ...(maksudnya mana..mana..., bahasa dua balita saya). Saya sodorkan tangan saya kepada dua balita itu. Kemudian saya menunggu reaksi mereka. "Iya, bau odol". Celotehnya. Hehehe ..Saya hanya bisa tertawa padahal dua balita itu entah faham dengan bau odol atau tidak. Karena mereka hanya ikut-ikutan saja memberi reaksi demikian agar sama dengan yang kami ucapkan tadi. Begitulah balita, mereka memang para peniru orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu berilah contoh yang baik bagi mereka para balita.

Setelah selesai menanamnya, saya cekrek untuk dokumentasi. Yang tadinya masih agak loyo, sorenya sudah agak tegak pertanda mulai berdaptasi dengan baik dengan lingkungan rumah kami. 

Tak lupa kamipun menyimpan satu atau dua helai daun mint untuk di perlihatkan kepada si abu agar si abu merasakan aroma daun mint juga. Setelah abu berada di rumah maka kami sodorkan daun mint tersebut. Dan ajaibnya komentar yang keluar dari nya ternyata sama. "Koq bau odol". Hehehe. Yah, beginilah keluarga kami yang masih sangat kudet (kurang updet) terhadap beberapa tanaman dan aromanya.

Heheh lucu ya. Koq daun mint bau odol. Yang ada odol lah yang bau daun mint. Karena odol lah yang menggunakan daun mint sebagai bahan pembuatannya. Mungkin karena pertama kali kami tahunya bau mint dari odol, jadi malah kebalik dech. Hehehe. 

Note

Sulur : cabang yang menjalar menjauh dari batang utama dan memiliki akar sendiri bisa diambil untuk ditanam kembali. (Sumber: internet). 


Makassar, 15022023


Ummu Aasiyah

Emak Lima orang anak 


اللهم بارك 


Komentar

  1. Keluarganya kompakan amat mak hhhee mampir di blog saya ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oo ini tho ..absen di wa hadir di sini anti ya hehehe

      Hapus
    2. Oo iya, ana sdh mampir di bloh anti ..

      Hapus
  2. Balasan
    1. Sok sibuk ana umm ...hehe ...pdhl krn blm ada ide mau nulis apa.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu

Kegiatan sehari-hari