Tomat cherry yang merana

Tomat cherry yang merana


Bismillaah, 

Masih cerita dari kebun kecil kami. Post sebelum ini, saya menceritakan tomat dan cabe yang mati karena penyakit jamur. Bisa terserang penyakit jamur mungkin karena cuaca yang lembap yang memang pada bulan-bulan ini sedang musim hujan. Qoddarullooh wamaa syaafa'al. Dengan gerak cepat si abu (abu ibrohim, abinya anak-anak) membeli fungisida untuk di sebar ke tanaman yang lain agar jamur tidak merembet kemana-mana. 

Sisa dua pohon cabe dari semaian pertama saya alhamdulillaah subur. Dan si tomat cherry yang telah berbuah pun mulai menguning dan kemudian ranum menjadi merah. Itu artinya siap untuk di panen. Bahagia rasanya memetik hasil panenan dari tanaman yang kita tanam. It's so amazing. Ok. Call me lebay. Hehehe. 

Tak berapa lama, satu pohon cabe menyusul belajar berbunga. Duh, semakin berbunga-bunga lah hati ini. Dan lama-kelamaan muncul buahnya. Mengamati dan memperhatikan pertumbuhan tanaman setiap hari adalah kegiatan yang sangat saya senangi. Hanya sesekali saya menyiraminya. Karena tugas menyirami adalah bagian si abu. Namun demikian, jikapun saya tidak sedang menyiraminya saya tetap menyempatkan diri melihat tanaman saya yang ada di depan rumah kami. Alhamdulillaah, pagar rumah kami modelnya tertutup sehingga memudahkan saya untuk selalu melihat tanaman saya. Sekedar jongkok, menyentuh tanaman dengan hati-hati atau melihat-lihat barangkali ada hama-hama yang nyelip di balik daun. Atau sibuk cekrek-cekrek sebagai dokumentasi untuk kemudian membandingkan pertumbuhannya secara berkala. Sungguh ini adalah kegiatan yang menyenangkan hati. 

Alhamdulillaah, si abu tidak hanya membantu menyirami. Bahkan rajin memberi pupuk setiap sepekan atau sepuluh hari sekali, tergantung kebutuhan tanaman. Si abu juga sangat antusias meracik pupuk organik sendiri.  Seperti POC (pupuk organik cair) dan membuat bakteri perangsang atau biasa dikenal dengan PSB (Photosyntetic Bacteria atau Bakteri fotosintesis). Hmm....biarlah dia ber-eksperimen dengan semua itu asal pembuatannya sesuai prosedur dan dosis yang pas. Tidak hanya itu, diapun menekuni pembuatan jamur trichoderma. Yaitu jamur yang berfungsi sebagai pupuk dan  fungisida. Jadi pupuk ini bisa membasmi jamur dengan jamur. Begitulah secara ringkasnya. 

Saya bersyukur sekali dengan hobby bertanam ini. Bersyukur karena si abu pun menyukainya. Jadi sama-sama bisa melakoninya. Dan saya merasa sangat di untungkan dengan memiliki hobby yang sama dengan si abu. Misal, ketika saya merasa membutuhkan tanah untuk media tanam. Tak berapa lama si abu pun sudah berencana untuk membelinya. Maa syaa Allooh. Begitu juga dengan yang lain-lainnya. Misal, kita butuh spryer (alat penyiram tanaman), sekup kecil untuk menanam, pelengkap media tanam seperti sekam, kapur dolomit dan lain-lain. Wuaaaaa...., apa ga senang tuh. 

Berbeda halnya dengan hobby saya yang lain. Misal menjahit. Boro-boro dia mau beli bahan-bahan kain yang cantik yang sudah saya incar-incar. Yang ada mentok hanya mendekam di keranjang market place. #eehh. Atau hobby baking. Boro-boro si abu mau membelikan bahan-bahan untuk membuat kue yang selalu ingin saya eksekusi. Yang ada malah bilang "hemat-hemat uangnya jangan boros" atau, "nanti mengeluh karena capek baking". Ya, selalu saja dia mengatakan demikian. Namun uniknya, dia  adalah salah satu penikmat garis depan dari hasil bakingan saya. Kalau hasil bakingannya mah ga nolak. Malah kalau bisa nambah ya. Heheh. 

Oh ya, kembali ke cerita kebun. Kabar sedih datang dari tomat cherry. Dengan eksperimen si abu yang terakhir, mampu membuat tomat cherry terbakar. Ehh...bukan terbakar api ya. Semua daun menguning dan berubah coklat. Karena salah dosis dari pemakain pupuk yang di buat si abu. Jadi, kalau dosis nya berlebihan maka ber-efek pada tanaman. Daunnya menguning dan berubah coklat tua lalu layu. Ini istilahnya terbakar pada tanaman yang saya sebutkan di atas tadi.

Sedih. Kecewa. Ahh...hanya sedikit saja. Ga sampai marah koq sama si abu. Qoddarullooh wamaa syaafa'al. Harus tetap semangat untuk merawat tanaman yang lain (padahal cuma sedikit hehehe). Namun sisa-sisa dari buah tomat cherry masih bisa di panen hingga hari ini. Karena batangnya belum layu total. Sedikit demi sedikit menuju kematian. Eh koq serem ya. Heheh. 

Itu dulu sekelumit cerita dari kebun kecil kami. Semangat..semangat. 


Makassar, 14022023


Ummu Aasiyah 

Emak Lima orang anak. 


اللهم بارك

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu

Kegiatan sehari-hari