Bersabar dalam mengasuh dan mendidik anak

Foto : koleksi pribadi


Bismillaah

Punya anak banyak dan jarak yang rapat itu *sesuatu*. Sesuatu yang harus di syukuri. Alhamdulillaah.

Kebayang kan bagaimana riweuh nya setiap hari, dengan usia mereka yang sedang aktif-aktifnya meng-eksplore segalanya. Mulai dari mainannya yang berhamburan, pakaian yang berserakan, dinding yang bercoretan, peralatan masak umminya yang pindah posisi ke kamar atau ruangan depan, rak piring yang di sulap jadi rak sepatu (sesekali mereka menaruh sepatunya di susunan rak piring paling bawah), atau rak piring yang berubah jadi jemuran (sesekali mereka menggantungkan pakaiannya yang di hanger ke pinggir rak piring), sungguh rak piring yang multi fungsi, kadang juga mereka mengambil tangkai dari bekas sayur pucuk ubi umminya untuk di selipkan ke rak piring, seolah-olah mereka sedang bercocok tanam, belum lagi suara tangis yang bersahutan kala mereka memperebutkan mainan. Ajaib! Ya, pola tingkah anak-anak memang ajaib. Maa syaa Allooh. Alloohumma Baarik.

Marah ga? Sering banget dan tak terhitung sudah berapa kali. Namun, hati sedih. Jika tengah malam tiba dan saat memandang wajah pulas mereka ketika tidur rasanya timbul penyesalan yang mendalam jika kemarin telah memarahinya. Semoga Allooh memberi kesabaran kepadaku dalam mengasuh dan mendidik mereka.

Jikapun kalau kita sampai di buatnya kesal dengan pola tingkahnya, ambil lah jarak dari mereka sebentar dan jika ingin menangis, menangislah biar hati jadi plong. Karena marahnya kita di hadapan anak-anak bukanlah menjadi solusi anak menjadi baik. Sekesal-kesalnya kita tahan lisan untuk tidak berkata yang jelek terhadap anak kita. Di khawatirkan pada detik itu merupakan waktu do'a yang mustajab. Walaupun hati kesal tetap do'a yang harus di berikan ke anak-anak. Jadi ketika kesal lebih baik ucapkan الله يهدك Alloohu yahdik (Semoga Allooh menunjukimu), اصلحك الله Aslahakallooh (Semoga Allooh memperbaikimu). Atau seperti do'a Ibu Imam Haromain, Syaikh Sudais. Dimana ketika kecil dulu Syaikh Sudais membuat kesal ibunya, dan ibunya mendoa'akan Syaikh Sudais dengan mengatakan "Semoga kelak engkau menjadi Imam Haromain". Maa syaa Allooh dan itu benar terjadi. Karena itu wahai para ibu berhati-hatilah mengeluarkan kata-kata yang di tujukan untuk anak-anakmu. Tahanlah lisanmu untuk tidak mengatakan sesuatu yang jelek kepada anakmu. Keluarkan lah kata-kata yang mengandung do'a yang baik.

Yah, memang usia mereka saat ini sedang aktif-aktifnya. Kalau mau marah terus ya capek jadinya dan malah jadi dosa. Kadang jika anak sering di marahi khawatir berdampak pada karakternya, ada yang malah jadi berkarakter keras, atau pendemdam. Nas'alullooh as salaamah wal 'afiyah. Biarkan mereka seperti itu, tapi kita tetap mengarahkannya ke hal yang positif. Ajak dan ajari mereka cara merapikan mainannya bila telah selesai bermain. Ikut serta dalam permainan mereka, dan pilihlah permainan yang ada unsur edukasinya, contoh menghitung jumlah mainan yang berserakan dan yang semisalnya.

Mengajari saat usia mereka masih kecil itu bagus. Mengajarinya dengan cara yang menyenangkan dan tidak memaksa. Menyediakan alat tulis untuk mereka walaupun mereka bisanya masih coret-coret setidaknya tenaga mereka tercurah untuk menulis daripada mencoret dinding dan daripada lari sana-sini atau manjat sana-sini. Terlebih dahulu kita mencontohkan apa yang harus di tulis agar mereka mengikutinya, jika ada papan tulis itu lebih baik. Walaupun kita tahu hasilnya tulisan mereka masih berupa coret-coret tapi lama kelamaan tangan mereka akan terlatih dan coret-coretan mereka mulai bisa terdeteksi. *senyum. Lalu, sedikit demi sedikit kita menambah jam belajar mereka. Kita mulai mengajarinya iqro'. Kemudian mengajari hafalan ayat pendek dengan cara mentalqinnya.

Tujuannya si anak belajar dari usia kecil agar mereka cinta dengan belajar dan cinta dengan ilmu. Tentunya ilmu agama. Dan yang tak kalah penting adalah mengajari Tauhid kepada anak sejak masih kecil.

Tulisan ini lebih untuk mengingatkan diri sendiri. Masih terus berproses menjadi ibu yang penyabar bagi anak-anaknya. Semoga di mudahkan. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu

Kegiatan sehari-hari