Bahasa apa?
![]() |
| Sumber foto dari pinterest |
Bismillaah
Saya asli suku batak, anak kedua dari delapan bersaudara dan lahir di tanah batak juga, tepatnya di kampung parbeokan atau desa buntu turunan kecamatan tanah jawa kabupaten simalungun. Tapi sejak kecil mungkin masih bayik saya sudah di ajak orang tua merantau. Awalnya merantau menyusuri daerah riau. Tempat pertama yang menjadi persinggahan di propinsi riau yaitu daerah ....Apa ya koq saya lupa nama daerahnya, entar dech kalau saya sudah ingat saya update kembali tulisannya. #gubraakk.
Saat usia 6 tahunan samar2 dalam ingatan saya kami pernah juga merantau ke pulau jawa daerah jabotabek. Dan ada dua orang adik saya yang lahir di sana tepatnya di jakarta dan bekasi.
Entah mengapa selanjutnga orang tua saya kembali ke riau lagi. Kami bertempat tinggal di daerah perawang hingga saya tamat SD dan ada tiga orang adik yang berhasil di lahirkan disana. #ehh.
Kemudian orang tua saya memutuskan untuk pulang kampung dan tinggal di kampung parbeokan.
Memang dasarnya suka bepergian dan berpetualang di saat saya kelas 3 SMP kami pun melakukan perjalanan lagi pindah ke riau, tepatnya di kecamatan pangkalan kerinci kabupaten langgam. Dan saat saya SMA kami urbanisasi ke ibu kota riau, pekanbaru hingga saat ini ortu masih di pekanbaru. Betul2 lah kami ini orang BARAT. Batak rantau maksud saya. Hihihi.
Setamat SMA saya pernah juga ke Jambi ke tempat bou (adik perempuan ayah) hendak mengadu nasib siapa tahu bisa dapat pekerjaan disana. Belum genap setengah tahun di sana saya sudah minta jemput ke mamak pengen pulang saja. Heheh. Bahasa jambi yang masih saya ingat cuma kata nian. "Tega nian dirimu". #ehh.
Setelah menikah tepatnya tiga hari pasca pernikahan, suami mengajak saya ke suatu daerah. Bukan, bukan untuk bulan madu tapi untuk belajar. Ya, belajar di pondok karena saya ini masih kurang ilmu. Makanya suami ngajak saya belajar di pondok bengkulu. Di daerah sana bahasanya juga hampir sama dengan bahasa jambi. Jambi, bengkulu, palembang hampir sama logatnya menurut saya (kalau saya salah maafkanlah saya). Sama2 ada nian nya. Dan beruntungnya lagi, di sana kami tinggal di daerah transmigrasi. Jadi orang yang tinggal di sekitar kami adalah orang jawa.
Nah dari sekian banyak daerah yang sudah saya singgahi tak satupun bahasa daerahnya yang bisa saya kuasai. Ya, hanya bahasa indonesia saja yang saya bisa karena itu bahasa saya sehari2, dan kalau sudah menyangkut bidang mata pelajarannya di sekolah saya juga kalah. Hehehe.
Walau suku batak asli, saya tidak fasih dalam menggunakan bahasa batak karena orang tua saya berkomunikasi dengan kami anak2nya menggunakan bahasa indonesia dalam keseharian. Sampai2 Orang kampung menjuluki kami dengan sebutan "batak dalle", maksudnya adalah orang batak yang tidak bisa berbahasa batak. Ya, walaupun tidak bisa menggunakan bahasa batak beruntung kami anak2nya tetap mengerti artinya. Kalau ada orang yang sedang bercakap menggunakan bahasa batak ya kami mengerti artinya.
Kalau di riau kebanyakan masyarakatnya berbahasa melayu dan minang. Dan bahasa inipun sama sekali tidak nyantol di saya. Tapi lama2 mengerti juga artinya walau tak bisa menggunakannya. Begitupun bahasa jawa. Dulu saat duduk di tingkat smp dan bersekolah di kampung (sumatra utara) entah mengapa kebanyakan di sekolah saya banyak murid2 bersuku jawa, akhirnya saya sadar kenapa orang jawa banyak di kampung kami karena kecamatan tempat kami tinggal saja namanya kecamatan tanah jawa. Loch. Ya pantes banyak orang jawa. Heheh. Dan dari situ saya jadi mengerti bahasa jawa dari pertemanan semasa bersekolah di smp dulu. Tapi untuk mengucapkannya saya termasuk dalam kategori orang yang payah. Berbeda betul dengan ayah rohimahullooh. Kalau ayah saya cepat sekali mengerti dan fasih pengucapannya terhadap bahasa dari suku manapun di tempat dia pernah tinggal.
Begitu juga pengalaman saya di awal tinggal makassar ini. Pernah dulu saat memeriksa kehamilan anak pertama di rumah sakit bersalin, saya ditanyai oleh beberapa bidan praktek tentang data kehamilan saya. Karena mereka memakai logat makassar maka saya kurang faham. Sulit sekali saya mencerna bahasanya padahal mereka tidak memakai bahasa daerah hanya saja logat dan penggunaan partikel2 nya itu yang belum saya fahami. Karena suami pun bila berkomunikasi dengan saya smenggunakan bahasa indonesia. Jadi saya dan bidan praktek itu hanya bisa saling berpandang2an dengan raut wajah berkerut #tanda saling tak mengerti.
Sekian tahun berlalu, dan saat saya mau melahirkan anak kedua di rumah bersalin yang berbeda para bidan praktek dan co-as berebutan menginginkan data kehamilan saya. Aihh...ini kenapa selalu begini ya. #tanya kenapa.
Untungnya setelah mereka bertanya2 dan melihat saya menjawab dengan bahasa indonesia mereka jadi bertanya tentang kewarganegaraan saya ehh maksudnya asal saya, "ibu asli orang mana?". Saya pun menjawab kalau saya orang sumatra. Akhirnya yang bertanya tadi mengganti bahasanya menjadi bahasa indonesia formal tanpa logat makassarnya. Ahhh...alhamdulillaah yang ini mengerti sekali dengan keresahanku yang belum memahami logat makassar. Heheh.
Dan sampai sekarangpun saya belum begitu mengerti dengan logat makassar dan bagaimana penempatan partikel ji, mi, di' dan yang lainnya itu. Ya, saya memang orang yang payah dalam memahami suatu bahasa di tempat mana saya tinggal. Alloohul musta'an. Nah bagaimana dengan kamu yang pernah merantau, apakah mudah untuk memahami bahasa daerah tempat dimana kamu tinggal?
Makassar, 13062021
Ummu Aasiyah As Samosiriyah
Emak Lima orang anak
Alloohumma Baarik

Komentar
Posting Komentar