Bahaya ikhtilat
![]() |
| Sumber : https://t.me/Nashihatulinnisa |
Bismillaah
Anak2 sedari kecil sudah di ajari kalau tidak boleh ikhtilat yaitu bercampur baur dengan laki2 yang bukan mahromnya. Umminyapun menjelaskan siapa saja yang menjadi mahrom mereka maka mereka boleh salim (bersalaman) dengan mahromnya. Dan di beritahu juga bahwa mereka tidak boleh memandang laki2 yang bukan mahromnya, begitu juga yang laki2 tidak boleh memandangi wanita yang bukan mahrom.
Walaupun belum faham benar saat ini bukan berarti kita luput dari menasihatinya tentang hal ini, justru nasihat itu penting saat mereka masih kecil. Sama hal nya dengan kita mengajarkan hafalan Alqur'an kepada mereka yang di mulai dari mereka masih kecil. Seperti kata pepatah arab :
" العلم في الصغر كالنقش على الحجر "
"belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu".
Dan sebagai orang tua, kita berharap semoga anak2 mampu menjaga dan mengamalkan ilmu yang kita ajarkan hingga tua nanti (hingga ajal menjemput).
Pepatah bijak itu sangat begitu terasa. Contohnya, Lihatlah saya yang harus berusaha keras untuk menghafal Alqur'an dan ketika sudah hafal begitu cepat nya hilang jika tak rajin di muroja'ah. Alloohul musta'an. Mungkin ada begitu banyak faktor hingga bisa seperti itu. Pertama karena usia sudah tidak muda lagi, kedua mungkin secara sadar ataupun tidak sadar masih terjatuh dalam perbuatan maksiat, kurangnya waktu untuk meroja'ah hafalan, banyak fikiran dan faktor2 yang lain.
Kembali lagi ke topik pembahasan tentang mahrom. Jadi anak2 setelah di terangkan hal ini malah suka pada nanya2.
"Ummi, kalau tulang amrin, tulang bintang mahrom ummi ya", tanya si sulung.
"Iya, karena tulang amrin dan tulang bintang adik kandung ummi. Begitu juga dengan tulang ronal dan tulang buyung, dan semua mereka mahrom kalian juga" , ummi lanjut menerangkan.
Maa syaa Allooh banyak ya saudara laki2 umminya, belum lagi saudara perempuan. #senyum.
Lain hari bertanya lagi "kalau om ogi dan om tian mahrom ummi juga"?
Ummi jawab " kalau om ogi dan om tian mahrom kalian karena saudara abu. Tapi tidak mahrom sama ummi".
"Tapi kemarin ummi ke rumah nenek dan di situ ada om ogi", tanya nya belum mengerti.
"Ya iya lah om ogi di situ, kan itu rumahnya"
"Tapi ummi kan lihat om ogi"?
Mulai njlimet " ya disitu memang ada om ogi tapi kan ummi ga harus mandangin om ogi. Kita bersilaturhmi ke rumah nenek, dan ummi kan tetap pakai cadar kalau adik laki2 abu (om anak2) sedang ada di rumah nenek. Bahkan ummi lebih sering di kamar ammah (tantenya anak2) kalau pas di rumah nenek, ndak kayak Aasiyah kemana2 bolak balik kalau di rumah nenek" #eeh. Hehee.
Kalau sudah ke rumah nenek Aasiyah dan adiknya bahkan suka meng-eksplore setiap sudut rumah neneknya. Ke dapur, kamar, ruang tamu, ruang tengah sampai ke samping rumah nenek karena mau lihat bunga2 nenek, ikan2 kecil dan ayam peliharaan neneknya. Beeuhhh. Gak pegel apa itu kaki heheh. Maklumlah hanya sekali eh dua kali dalam setahun berkunjung kerumah neneknya (ied fitri dan ied adha). Jadi pengen betul2 merekam di memorinya setiap sudut rumah nenek nya. Dan jika sudah sampai di rumah jadi bahan obrolannya sepanjang waktu dengan adik2nya. Hihihi.
"Kalau kakek (bapak abunya) mahrom ummi ga?" Lagi dan lagi pertanyaan seputar mahrom di tanyakan hehehe. #umminya jangan bosan ya. #senyum.
"Iya, kalau kakek mahrom sama ummi".
Yah bagitulah anak2, umur2 segitu ya suka banyak bertanya. Harus sabar menghadapi rasa pengen tahunya.
Dulu di awal2 mereka malah sempat bertanya, "Ummi koq lihat abu, abu kan laki2". #gubrakkkk
Ummi dan abunya hanya bisa saling pandang dan tertawa kemudian menjelaskannya. #senyum
Makassar, 09062021
Ummu Aasiyah As Samosiriyah
Emak Lima Orang Anak
Alloohumma Baarik
Ket:
Tulang adalah paman (saudara laki2 ibu) dalam suku batak.
![]() |
| Sumber: https://t.me/Nashihatulinnisa |


Komentar
Posting Komentar