Brownies
Bismillaah,
Udah lama tidak nge-blog dan kalau tidak nge-blog biasanya blog juga di non-aktifkan untuk sementara. Pasti bingung ya? Pake di non-aktifkan segala. Kalau sedang tidak mau menulis kenapa blog harus ikut2an di tidurkan? Maunya "hati" seperti itu maka ikuti saja kata hati-mu. Hihi.
Dan kali inipun saya datang dengan cerita dari dapur yaitu nge-baking. Kenapa tema dapur jadi lebih mendominasi blog ini ya. Mungkin karena emak2 sukanya turun ke dapur jadi inspirasi buat nulisnya ya seputaran dapur. Ehh...tapi belum jelas juga sih blog ini mau di bawa ke arah mana. Karena isinya masih gado2 alias campur baur. Tulisan tidak berasal dari satu tema tapi berbagai tema. Ya sudahlah, biarkan si emak menulis semaunya asal masih dalam koridornya. Sebisa mungkin menulis hal positif dan berfaidah. #Semoga
Sebelumnya sudah pernah menulis tentang brownies dan tips bagaimana memunculkan si seksi shiny crust. Kali inipun hampir sama dan alhamdulillaah shiny crusnya tetap muncul, tentunya karena sudah beberapa kali latihan (praktek). Kalau yang dulu masih suka ilang timbul seiring berjalannya waktu kami mulai akrab akhirnya si shiny crustpun tak malu2 lagi muncul ke permukaan untuk menyapaku. #lebay tipis-tipis.
Kadang kalau sudah melihat hasilnya begini timbul keinginan untuk menjual online si brownies ini. Tapi apalah daya, saya bingung mau meng-iklankannya dimana? Karena saya tidak punya medsos atau tepatnya tidak menyukai medsos. Alasan saya tidak suka medsos karena saya sudah cukup sibuk di dunia nyata dengan mengurus lima anak (saat ini masih lima). Iya, anak2 belajar sama umminya. Mereka tidak bersekolah formal. Mereka hanya belajar dari abu dan umminya. Mulai dari mengajari mereka iqro' dan belajar membaca latin. Untuk belajar membaca latinnya pun kami tidak memakai buku cetak seperti yang beredar di umum. Ya, saya yang menuliskan sendiri dengan tulisan tangan. Alhamdulillaah. Nantilah kalau ada kesempatan kita bahas tentang belajar anak2 di rumah. Betul2 perjuangan besar, semoga dari orangtuanya lah anak bisa belajar dan menjadi anak yang sholih/ah. Aamiin. Penerapannya hampir sama seperti homeschooling, sama2 belajar di rumah.
Back to topic, kita tulis lagi resep brownies dan langkah2nya karena ada yang berbeda dari yang kemarin di langkah2 pembuatannya.
Bahan-bahan:
1. 250 gr coklat batang
2. 150 ml minyak sayur
3. 40 gr margarin
4. 160 gr / 170 gr gula pasir (sesuai selera)
5. 2 butir telur utuh dan 1 butir putih telur
6. 200 gr tepung terigu
7. 35 gr coklat bubuk (saya tidak pakai karena sedang kehabisan). Kalau cokbuk ada maka pemakaian tepung terigu di kurangi 35 gr.
8. Chocochips sebagai Topping
Langkah-langkah membuatnya:
- Blender gula hingga halus. Sisihkan.
- Tim coklat batang, minyak sayur dengan teknik double boiler. Setelah coklat batang hampir meleleh masukkan margarin, lalu segera matikan api. Aduk2 margarin di saat coklat leleh masih dalam keadaan hangat. Angkat.
- Selagi coklat leleh masih hangat masukkan setengah dari jumlah gula yang telah di haluskan, aduk2 agar gula larut dan tidak menggrindil.
- Kocok telur dan sisa gula dengan whisker hingga gula larur.
- Masukkan lelehan coklat ke dalam wadah kocokan telur. Aduk2 hingga tampak mengental dan berat. Lalu masukkan tepung dengan cara di ayak.
- Masukkan ke dua buah loyang ukuran 20x10 yang sudah di lapisi baking paper, beri topping. Lalu panggang ke oven yang sebelumnya sudah di panaskan. Api sedang 150/160°c. Oven sampai matang kira-kira 40 menit atau sesuaikan dengan oven masing2. Jangan lupa test tusuk. Jika masih ada sedikit yang menempel saat test tusuk maka angkat saja. Karena brownies tidak boleh terlalu kering.
Setelah matang, angkat. Setelah suhu ruang masukkan ke kulkas agar lebih nikmat saat menyantapnya. Potong-potong sesuai selera dan sajikan untuk keluarga besar tercinta.
Alloohumma Baarik.
Makassar, 27072021
Ummu Aasiyah As Samosiriyah
Emak Lima Orang Anak


Komentar
Posting Komentar